prolog

Pagi penuh derita itu seakan menyapaku. Birunya langit pagi tertutup oleh kelamnya awan hitam. Mendung kelabu menyapu, gerimis membasahi bumi.

Membuka lembaran baru seakan sulit bagiku. Jejak-jejak masa lalu terus menyelimuti kalbu. Aku tak ingin kenangan itu terlupa begitu saja olehku, tapi tak juga kemudian terus menghantuiku. Aku mengusap gambar wajahmu. Senyum itu akan selalu mempesonaku. Membawaku terbang tinggi hingga tak sadar bahwa aku telah tenggelam.

Semakin aku menatap wajah dalam pigura itu, kenangan akan dirimu semakin terasa dihatiku. Menguat, menyesakkan dada, yang selalu menanti asa akan cintamu. Aku menghela nafasku, mencoba menenangkan hati yang terus bergejolak. Yang semakin tak kuasa membendung kerinduanku kepadamu.

Andaikan dirimu ada dihadapanku, pasti kan kudekap dirimu erat. Tak ingin ku melepaskan dekapan itu. Tapi hanya ada seutas senyum dalam gambarmu di hadapanku. Aku memeluk gambar dirimu itu, membayangkan bahwa itulah dirimu seutuhnya. Rasa ini tetap ada walaupun semua telah berlalu.

Aku meletakkan gambar wajahmu itu dimeja kamarku. Ke tempat dimana biasanya berada. Di sudut atas, disamping deretan buku-buku. Tempat yang sangat mudah terlihat olehku dimanapun aku berada di dalam ruang kamar ini. Di sudut meja itu terdapat goresan tanganmu, yang aku harap, tak pernah akan hilang dimakan waktu. Masih terlihat jelas ukiran itu, I was here b4! 200407, VInza.

Goresan itu adalah bukti nyata adanya dirimu di kamar ini, tepat setahun yang lalu, saat dirimu mengunjungiku. Lebih tepatnya, saat dirimu memaksaku untuk mengantarmu ke perpustakaan nasional di salemba.

“Vin, besok pagi gw ke jakarta. Jemput, trus anterin ke Perpustakaan nasional ya.” Katamu mendadak lewat telepon sehari sebelumnya. Aku terkejut, tapi aku hanya bisa mengiyakan permintaanmu itu.

“Naik apa ke Jakarta?” tanyaku.

“Palingan Argo”, jawabmu singkat. “Berangkat dari Bandung jam enam pagi terus sampai sono jam 8.35” Lanjutmu. Seakan tahu bahwa aku akan menanyakan jam kedatanganmu.

“Oh iya, jemput di gambir ya. Jangan lupa jam 8.35 pagi. Jangan telat!” ancammu padaku.

Aku hanya mengiyakan. Karena membantahmu akan berbuah sebuah kenekatan darimu. Seperti ketika pertama kalinya kau datang ke jakarta. Mendadak, seperti biasa. Waktu itu aku bilang aku tidak bisa menjemputmu, aku terlalu sibuk saat itu. Tiba-tiba keesokan harinya aku dikejutkan oleh kedatanganmu.

Pagi itu ketika aku sedang menyantap sarapan pagiku, terdengar suara ketukan di pintu rumahku. Aku hendak beranjak membuka pintu itu ketika ibu menyuruhku untuk melanjutkan sarapanku. “Biar ibu saja yang buka!”, kata ibuku. Akupun urung melangkahkan kakiku dan hanya melanjutkan sarapanku dalam diam ketika ibu berkata, “Vin, ada tamu tuh.”

Belum lagi aku bertanya siapa tamu itu, sesosok bayangan muncul di belakang ibu. Aku terkejut, kedatanganmu pagi itu benar-benar tak pernah kusangka. Padahal dihari sebelumnya, aku sudah berkata kepadamu, “Jangan besok Vin, jadwalku padat. Aku ngga bisa nganter kamu ke salemba.” Aku benar-benar tak menyangka bahwa kau akan senekat itu. Karena kau belum pernah ke Jakarta sebelumnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kehadiranmu dirumahku. Sementara kau tersenyum cengengesan. Akhirnya aku terpaksa membatalkan semua rencanaku hari itu demi mengantarkanmu ke Perpustakaan nasional di salemba.

* * *

Mentari pagi luar biasa cerah hari itu. Seakan bergembira menyambut kedatanganmu ke kotaku. 20 April 2007. Aku masih ingat hari itu, karena goresanmu masih ada di mejaku.

bersambung… lagi males nulis

Tags:

2 Responses to “prolog”

  1. asri Says:

    haduh haduh
    kalimat2 awalnya lebay beneršŸ˜€

    HAYYA…. namanya jugak novel buu….

  2. mbelgedezā„¢ Says:

    .
    Bagus Vin….
    Tinggal diatur alinea dan aposthrope nya, juga ngurangin beberapa suku kata maupun akhiran yang ndak perlu….

    Misalnya,

    Pagi itu ketika aku sedang menyantap sarapan pagiku, terdengar suara ketukan di pintu rumahku.

    >

    Ituh cukup ditulis begini,

    Pagi itu ketika aku sedang menyantap sarapan pagiku, terdengar suara ketukan di pintu rumahku.

    Lebih simpel karena ndak berulang-ulang….

    Buruan dilanjutin sebelom jadi males….

    KEVIN:

    hehehe… soal edit mengedit itu mah urusan editor mbah… hohoho.. tq sarannya… insya allah diperbaiki… namanya juga newbie…
    kalok soal ngelanjutin… musti dapet feelingnya… lha ene datengnya dari kisah pribadi je..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: